Jumat, 26 Desember 2008

Syaikh Ismail Al-Khalidy

Syeikh Ismail Al Khalidi adalah punggawa thareqat Naqsyahbandiyah Khalidiyah di Sumatera. Karyanya menjadi perbincangan dan bahan rujukan kalangan tasawuf.

Seorang pujangga besar Melayu, Raja Ali Haji pernah menulis bahwa tentang seorang ulama besar bernama Syekh Ismail Al Khalidi al-Minangkabawi. Dalam karangannya yang berjudul Tuhfatun Nafis disebutkan bahwa ulama ini sering datang ke kerajaan Melayu, Riau. Rajanya sendiri yang menjemput ulama dari Minagkabau ini di pelabuhan. Hampir seluruh kerabat keluarga istana berkumpul untuk mendengarkan nasehat dan wejangan dari ulama terkemuka itu. Catatan ini membuktikan bahwa Syeikh Ismail al Khalidi adalah ulama besar yang cukup berpengaruh.

Tidak hanya zaman itu saja, tetapi juga sampai sekarang. Namanya berderet diantara tokoh-tokoh sufi Nusantara yang tak lekang oleh zaman.

Memang Syeikh Ismail kesohor sebagai pengembang Thareqat Naqsyahbandiyah di ranah Minangkabau hingga Melayu.. Thareqat Naqsyabandiyah di Nusantara sendiri memang mempunyai dua aliran, yakni thareqat Naksyabandiyah Muzhariyah dan Naksyabandiyah Khalidiah. Aliran pertama berasal dari Syekh Muhammad Muzhar al-Ahmadi, yang juga seorang mursyid thareqat Naksyabandiyah.

Disebutkan dalam Ensiklopedi Islam bahwa Syekh Ismail yang lebih dikenal mula-mula belajar mengaji Alquran di surau kampungnya di bawah bimbingan guru dan orang tuanya. Soal tanggal lahirnya memang ada perbedaan. Disamping ilmu Al Quran juga belajar membaca kitab-kitab Arab Melayu dan kitab berbahasa Arab. Cakupan studinya juga cukup luas mulai ilmu fikih, tasawuf, kalam, tafsir, hadis dan ilmu kebahasaan. Seperti ulama besar lainnya, Ismail muda sangatlah haus akan ilmu pengetahuan. Mekah dan Madinah menjadi tujuannya dalam memburu ilmu. Bahkan menetap di keuda kota suci ini selama hampir 35 tahun.

Syeikh Muhammad Mirdad Abul Khair meriwayatkan bahwa Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minankabawi al-Khalidi asy-Syafi’ie lahir di Minangkabau. Tidak yang tahu kapan tepatnya tahun kelahirannya. Memang banyak muncul kontroversi di sini. Sejak kecil mengikuti ayahnya yang kemudian pindah ke Mekah. Di sana belajar pelbagai ilmu kepada Syeikh Utsman ad-Dimyati. Setelah ulama besar itu wafat, Syeikh Ismail Minangkabau belajar pula kepada Syeikh Ahmad ad-Dimyati. Selain kedua-dua ulama itu, Syeikh Ismail Minangkabau juga belajar kepada ulama-ulama lain dalam Masjidil-Haram, Mekah. Sempat pula belajar Mufti Mazhab Syafie ketika itu, Syeikh Muhammad Sa’id bin Ali asy-Syafi’ie al-Makki al-Qudsi (wafat 1260 Hijrah/1844-5 M).

Syeikh Ismail juga nyantri di ulama-ulama besar lainnya. Diantaranya pernah berguru kepada Syekh Athaillah bin Ahmad al-Azhari (ahli fikih Mazhab Syafi’i), Syekh Abdullah asy-Syarqawi (mantan syekh al-Azhar dan ahli fikih Mazhab Syafi’i), Syekh Abdullah Affandi (tokoh thareqat Naksyabandiyah), Syekh Khalid al-Usmani al-Kurdi (seorang Mursyid Thariqat), dan Syekh Muhammad bin Ali asy-Syanwani, seorang ahli ilmu kalam.

Syeikh Ismail dikenal sebagai salah satu pengembara sejati. Hal itu tidak lepas dari kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Seperti dituturkan oleh Syeikh Husein bin Ahmad ad-Dawsari al-Basri, salah seorang muridnya. Ia menyatakan bahwa pernah bertemu dengan gurunya di Bahrain.

Sang murid belajar thareqat Naqsyabandiyah. Karena waktunya sempit pelajaran tersebut diteruskan di sebuah desa yang tidak diketahui namanya, di luar kota Basra Iraq. Sampai keduanya akhirnya berpisah di desa tersebut setelah sekian lama mengembara.

Mengenai Thariqat Naqasyabandiyah al-Khalidiyah, Syeikh Ismail al-Minangkabawi menerima baiat dari Sayid Abi Abdillah bin Abdullah Afandi al-Khalidi, murid Syeikh Khalid al-’Utsmani al- Kurdi. Namun Syeikh Ismail al-Minankabawi juga menerima baiat secara langsung dari Syeikh Khalid al-’Utsmani al-Kurdi. Nama inilah terdapat istilah al-Khalidiyah dalam Thariqat Naqasyabandi karena Syeikh Khalid al-’Utsmani al-Kurdi adalah seorang Mujaddid (pembaharu) dalam thareqat yang sangat terkenal itu.

Tercatat dalam sejarah bahwa Syeikh Ismail al-Minankabawi adalah seorang ulama yang sangat kuat melakukan ibadah, selain aktif mengamalkan Thariqat Naqasyabandiyah Khalidiyah, Syeikh Ismail juga mengamalkan Thariqat Syadziliyah.

Setelah sekian lama menjalankan studinya di Mekah, Syeikh Ismail balik ke kampung halamannya. Di Simabur (Batusangkar) dimulailah kegiatan dakwahnya.pertama-ta membuka sebuah majelis pendidikan agama Islam. Di madarsah ini, Syeikh Ismail mengajarkan ilmu usuluddin, ilmu syariat dan ilmu thareqat. Dalam ilmu.. Sejak itu thareqat Naksyabandiyah berkembang pesat di Sumatra Barat dan sekitarnya.

Oleh karenanya, Syekh Ismail kerap dipandang sebagai orang pertama yang mengembangkan thareqat Naksyabandiyah Khalidiah di Minangkabau. Bila ditilik perkembangan thareqat di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnya, termasuk Riau, Jambi, Bengkulu dan Tapanuli Selatan, maka jauh sebelum adanya thareqat Naksyabandiyah yang diusung Syekh Ismail, telah berkembang thareqat Syatariyah yang berpusat di Ulakan, Pariaman. Motornya tidak lain adalah Syeikh Burhanudddin Ulakan.

Buah Pemikirannya
Sebagai ulama yang mumpuni, Syeikh Ismail meninggalkan banyak jasa. Tidak hanya Islam menjadi semakin besar di Nusantara, thareqat berkembang dengan pesat, tetapi juga peninggalan keilmuan. Ada beberapa karya yang telah dihasilkan olehnya. Diantaranya ada berjudul Kifayah al-Gulam fi Bayan Arkan al-Islam wa Syurutih serta Risalah Muqaramah Urfiah wa Tauziah wa Kamaliah (risalah tentang niat shalat).

Kitab pertama berisi penjelasan tentang rukun Islam, rukun iman, sifat Tuhan dan penjelasan tentang kewajiban Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun Kitab kedua merupakan buku kecil yang membicarakan keterpaduan antara niat dan lafal takbiratulihram pada permulaan pelaksanaan shalat.

Sebagai penganut aliran Asyariyah, Ismail al-Minangkabawi mewajibkan setiap Muslim untuk mengenal Tuhan menurut metode kaum Asyariyah, yakni diawali dengan pengenalan sifat-sifat Tuhan. Dia berpendapat Tuhan tidak dapat dikenal kecuali diawali dengan pengenalan terhadap sifat-sifat-Nya.

Setelah itu, umat Muslim diwajibkan mengetahui rukum iman lainnya.

Ada karyanya yang lain diantaranya Ar-Rahmatul Habithah fi Zikri Ismiz Zati war Rabithah. Kitab ini selesai tahun 1269. Isinya tentang tasawuf yang merupakan terjemahan sebuah karya murid beliau sendiri, seorang Arab yang bernama Syeikh Husein bin Ahmad ad-Dausari. Kemudian kitab Al-Muqaddimatul Kubra allati Tafarra’at minhan Nuskhatus Shughra.

Isi kandungannya membahas ilmu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah secara mendalam. Cetakan pertama oleh Mathba’ah al-Amiriyah, Bulaq, Mesir, tertulis di halaman depan dinyatakan tahun 1309 Hijrah, dan di halaman akhir dinyatakan Rabiulakhir 1310 Hijrah.

Selanujutnya kitab Muqaddimatul Mubtadin. Kitab ini berisi ilmu akidah secara mendalam.

Kemudian kitab Mawabib Rabbil Falaq Syarh Bintil Milaq yang isinya membicarakan tasawuf, merupakan terjemahan dan syarah Qashidah al-’Arif Billah al-Qadhi Nashiruddin ibni Bintil Milaq asy-Syadzili. Sebahagian besar kandungannya membicarakan Thariqat Syadziliyah. Kitab ini termasuk dalam kategori kitab langka.

Di samping karena keluasan wawasan pengetahuannya, Ismail al-Mingangkawabi juga begitu dihormati di wilayah kerajaan Melayu Riau. Bahkan rajanya termasuk murid Syeikh Ismail. Disamping itu Hal dari segi silsilah masih ada pertalian darah dengan orang-orang Melayu dan Bugis di Pulau Penyengat dan di Negeri Sembilan. (Huda/ dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar