Sabtu, 22 November 2008

Sejarah Singkat Syekh Siti Jenar

Sejarah Singkat Syekh Siti Jenar

Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499)

Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.
Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Siti Jenar dianggap telah merusakketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri).

Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam.

Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar. Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon.

Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.

Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar.

Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:

Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya;

Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya;

Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah;
Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia;

Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera;

Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya;

Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru;

Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa :

Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah;

Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan;

Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi;

Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia;
Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.

Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa :

Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata;

Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan;

Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.

Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian.

Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.

Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif). Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).

Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi.

Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).
Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar).

Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.

Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa. Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri.

Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini.

Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela. Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci.

Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya.
Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”.*

Sidang para Wali

Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba,mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M. Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie.

Pedah punapa mbibingung,
Ngangelaken ulah ngelmi,
NJeng Sunan Giri ngandika,
Bener kang kaya sireki,
Nanging luwih kaluputan,
Wong wadheh ambuka wadi.
Telenge bae pinulung,
Pulunge tanpa ling aling,
Kurang waskitha ing cipta,
Lunturing ngelmu sajati,
Sayekti kanthi nugraha,
Tan saben wong anampani.
Artinya:
Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar,karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya.
Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.

Ngrame tapa ing panggawe
Iguh dhaya pratikele
Nukulaken nanem bibit
Ono saben galengane

Mili banyu sumili
Arerewang dewi sri
Sumilir wangining pari
Sêrat Niti Mani

. . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah.

Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita.

Kinanti

Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti.
Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi.
Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani.
Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika,neng kaanan ênêng êning.

ARTIKEL PERMULAAN KALIMAH

ARTIKEL PERMULAAN KALIMAH

Adalah “ Bismillahirrahmanirrahim”
Adapun huruf yang dijadikan atau dilahirkan Allah swt yang pertama-tama adalah huruf (….) karena hurut itulah yang permulaan dijadikan oleh Allah swt sekalian ala mini. Adalah huruf (BA). Maka dengan huruf BA inilah menjadikan Nabi, maka cahaya Nabi itu selama (6000tahu) cahaya itu dilimpahkan kepada Muhammad, baharulah menjadi hruf (ALIF), dan Muhammad itulah menjadi peringatan kepada kita didalam tubuhnya Adam, maka adam itulah yang zhahir didalam ala mini, adapun peringatan kita itu menjadi bhatin Adam sebenar-benarnya, dan peringatan kita menjadi tubuh yang zhahir dalam alam yang zhahir.
Firasatan itu menjadi bhatin, dan firasatan itu menjadi tubuh Tuhan kita yang zhahir, Tuhan kita bhatin sebenar-benarnya. Tuhan itu tempatnya didalam syir Allah, itulah dia kuat dan kuasa didalam syir. Maka tuhan kita inilah yang bernama : Huwal awwal – Huwal akhir – Huwaz zhahir – Huwal bhatin. “ Tuhan yang awwal – Tuhan yang akhir – Tuhan yang zhahir – Tuhan yang bhatin. Maka menjelaskan lagi dalil yang menyatakan :
“Syuhudul wahidah fiil katsrah”.
Artinya : Pandang yang satu didalam yang banyak.
Dalil ini menunjukkan antara Allah dengan hamba ibaratkan antara Tuhan Azza wa Jalla dengan Muhammad, ibaratkan lagi seperti matahari dengan panasnya, sehubungan dengan itulah yang dimaksud badan Tuhan itu menjadi nyawa Muhammad yang sebenar-benarnya, adapun Tuhan Azza Wa Jallah itu didalam Muhammad, maka Muhammad itu nyawa Adam, justru itulah Muhammad itu nyawa sekalian ummatnya adalah merupakan juga nyawa sekalian alam ini. Karena dari itulah Allah ghaib kepada Muhammad, dan sebaliknya Muhammad ghaib kepada Allah, karena itulah dia Tuhan sendirinya. Maka itulah nyawa Allah dan Allah itulah nyawa Muhammad dan nyawa Muhammad itu juga nyawa Adam sampai turun – menurun kepada ummat seterusnya.

Awal Kejadian Manusia

Awal Kejadian Manusia

Adapun permulaan kita dijadikan Allah SWT yang berasal dari empat buah kitab

1. Kitab Wadu

2. Kitab Wadi

3. Kitab Mani

4. Kitab Ma`nikam

Wadu itu asalnya menjadi tubuh kepada kita Kitabnya bernama Jallah (Taurat) Nabinya Musa AS diturunkan pada malam keenam bulan ramadhan, jaraknya antara Shuhub Nabi Ibrahim AS 700 Tahun. Sedangkan kalimahnya, kalimah Nafi, pujinya Laa Ilaha Illallah.

“ Dia mengakui tiada tuhan yang wajib disembah melainkan Allah SWT ”

Wadi itu asalnya menjadi hati kepada kita kitabnya Zabur nabinya Daud AS diturunkan pada 21 Ramadhan, jaraknya antara kitab Taurat selama 500 tahun, sedangkan kalimahnya, kalimah Munfi pujinya kalimah Munfi Allah – Allah – Allah – Allah.

Mani itu asalnya menjadi nyawa kepada kita kitabnya bernama Injil, nabinya Isa AS diturunkan pada 12 bulan Ramadhan. Jaraknya antara kitab Zabur selama 1200 Tahun, sedangkan kalimahnnya, kalimah Isbat, pujinya kalimah Isbat Hu Allah – Hu Allah – Hu Allah – Hu Allah.

Ma`nikam asalnya menjadi Peringatan kepada kita Kitabnya bernama Furqan (Al-Quran), nabinya Muhammad Rasulullah SAW, diturunkan pada 27 Bulan Ramadhan, jaraknya antara kitab Injil selama 600 tahun, sedangkan kaimahnya Kalimah Misbat, pujinya kalimah Misbat adalah Alif – Alif – Alif – Alif.

sebelum Allah menjadikan bumi dan langit, Arasy, kursi, laut dan darat, neraka dan surga. Allah bersabda tatkala Allah melimpahkan cahaya daripada sir dirinya nuraninya :
" Al-insan syiirihi wa syirihi wa shifatihi". manusia itu rahasiaku dan aku rahasia adalah rahasianya.
maka Allah yang berdiri sendiri lagi bersatu dengan sendirinya. maka barulah Tuhan berwasiat kepada nabi "wahai Kekasihku inilah nama engkau yang lahir daripada ku " Syirullahi payakuun" wahai kekasihku inilah namaku (...) maka barangsiapa tahu akan namaku disurgalah tempatnya, maka dari itu ketahuilah olehmu. adapun hidup itu tiada lawannya. hidup itu belum awal, hidup itu ghaib, ghaib hidup itu tiada lawannya, hidup itu belum zhahir, namanya, hidup itu tiada dengan sesuatu, hidup itu belum Laiilaahazhahir miskillah namanya, hidup itu tiada dengan rupanya. hidup itu belum Qadim Haq Muthlaq akan namanya, hidup itu belum Muhdats haq subhana ta`ala akan namanya, hidup itu mahasuci adanya, hidup itu tersembunyi Wajibul Guyub namanya Hidup itu ada sendirinya : Ganah Namanya hidup itu berdiri dengan sendirinya Zat semata-mata namanya kala hidup itu dia sendirinya La Ta`yun akan namanya sudah itu tatkala cahayanya ada pada ubun-ubun Bapak Tuftha Ghaib akan namanya. tatkala turun daripada ubun-ubun bapak Fha`asat Allah akan namanya tatkala tetap/sabit didalam dada bapaknya : Syiir Allah akan namanya, tatkala tersembunyi Kunta Kannan Mukhfiyan namanya tatkala zhahir kepada pusat bapaknya : Hidup Mati akan namanya, tatkala luruh didalam Qalam bapaknya Ma`nikam akan namanya diujung Qalam bapaknya Tuhfah akan namanya, jatuh didalam rahim ibunya Alif Allah akan namanya, sehari semalam didalam rahim ibunya Allah akan namanya Hu akan pujinya artinya Hu itu hidup serta zatnya tiga hari tiga malam di dalam rahim ibunya Nur Allah akan namanya Haq akan pujinya, artinya hidup serta cahayanya , tatkala tujuh hari tujuh malam didalam rahim ibunya Syuun akan namanya Inna Lillah akan pujinya artinya hidup serta rasanya empat puluh hari empat puluh malam didalam rahim ibunya Rasulullah dan juga Siiru Maadain namanya. Subhanallah akan pujinya, artinya hidup itu serta nafsunya, tujuh bulan didalam rahim ibunya, Insan Kamil akan namanya Allahu Akbar akan pujinya, tatkala sudah lengkap didalam rahim ibunya Fayakun Haq namanya, sembilan bulan didalam rahim ibunya Adam namanya La ilaaha Illallah akan pujinya, artinya hidup, sembilan bulan sepuluh hari manusia atau Shalih Mukmin namanya Alhamdulillahi rabbil `Alamiin akan pujinya, baharulah nur itu hidup serta dengan nyawa, diapun menangis Dalilullah akan namanya. apabila nur itu sudah tahu merangkak Jamalullah akan namanya, apabila nur itu sudah tahu berjalan baharulah Muhammad Rasulullah SAW jika sudah sempurna Akalnya Nur Muhammad itu baharulah dia bernama Ruh Idhafi karena Nur Muhammad itu keluar daripada Ruh Rasulullah maka Nur Muhammad itu zat Rasulullah SAW itulah yang dinamakan permulaan dan kesudahan, sesuai dengan pernyataan : Huwal Awwalu wal Akhiru Wa Zhahiru Wa Bhatin. "Dia yang Awal dia yang akhir dan dia juga yang nyata dan juga tersembunyi".

ALIRAN QADARIYAH

ALIRAN QADARIYAH

1. Asal-Usul Kemunculan Qadariyah

Qadariyah berasal dari bahasa arab, yaitu dari bahasa qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Adapun menurut pengertian termonologi, Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya; ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri, berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa Qadariyah dipakai untuk nama aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia harus tunduk pada qadar tuhan.

Seharusnya sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat.

Namun sebutan tersebut telah melekai kaum sunni, yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehandak. Menurut Ahmad Amin, sebutan ini diberikan kepada para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadis yang menimbulkan kesan negatif bagi nama Qadariyah.

Kapan Qadariyah muncul dan siapa tokoh-tokohnya? Merupakan dua tema yang masih diperdebatkan. Manurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan. Oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy. Ma;bad adalah seorang taba’i yang dapat dipercaya dan pernah berguru pada Hasan Al-Basri. Adapun Ghalian adalah seorang orator berasal dari Damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin Affan.

Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyum, seperti dikutip Ahmad Amin, memberi informasi lain bahwa yang pertama kali memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang semuala beragama kristen kemudian beragama islam dan balik lagi keagama kristen. Dari orang inila Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini. Orang irak yang dimaksud, sebagaimana dikatakan Muhammad Ibnu Syu’i

Yang memproleh informasi dari Al-Auzai, adalah susunan.

Sementara itu, W. Montgomery watt menemukan dokumen lain melalui tulisan Hellmut Ritter dalam bahasa jerman yang dipublikasikan melaului majalah Der Islam pada tahun 1933. Artikel ini menjelaskan bahwa faham Qadariyah terdapat dalam kitab Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul malik olah Hasan Al-Basri termasuk orang Qadariyah atau bukan. Hal ini memang menjadi perdebatan, namun yang jelas, berdasarkan catatannya terdapat dalam kitab Risalah ini ia percaya bahwa manusia dapat memilih secara bebas memilih antara berbuat baik atau buruk.

Ma’bad Al-jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqi, menurut watt, adalah penganut Qadariyah yang hidup setelah Hasan Al-Basri. Kalau dihubungkan dengan keterangan Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal, seperti dikutip Ahmad Amin yang menyatakan bahwa Ma’bad Al-Jauhani pernah belajar pada Hasan Al-Bashri, maka sangat mungkin fahm Qadariyah ini mula-mula dikembangkan oleh Hasan Al-Bashri, dengan demikian keterangan yang ditulis oleh ibn Nabatah dalam Syahrul Al- Uyun bahwa fahan Qadariyah berasal dari orang irak kristen yang masuk islam kemudian kembali lagi kekristen,adalah hasil rekayasa orang yang tidak sependapat dengan faham ini agar orang-orang yang tidak tertarik dengan pikiran Qadariyah. Lagipula menurut Kremer, seperti dikutip Ignaz Goldziher , dikalangan gereja timur ketika itu terjadi perdebatan tenteng butir doktrin Qadariyah yang mencekam pikiran para teologinya.

Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya Qadariyah muncul, ada baiknya jika meninjau kembali pendapat Ahmad Amin yang menyatakan kesulitan untuk menentukannya. Para peniti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut Qadariyah ketika itu banyak sekali. Sebagian terdapat di irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Bashri. Pendapat ini di kuatkan oleh Ibn Nabatah bahwa yang mencetuskan pendapat pertama tentang masalah ini adalah seorang kristen di irak yang telah masuk islam pendapatnya itu diambil oleh Ma’bad dan Ghallian . sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus. Diduga disebabkan oleh orang-orang yang banyak dipekerjakan diistana-istana.

Faham Qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam ketika itu, ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinua reaksi keras ini. Pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat arab sebelum islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Mereka selalu terpaksa mengalah kepada keganasan alam. Panas yang menyengat, serta tanah dan gunung yang gundul. Mereka merasa dirinya lemah dan tak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya.faham itu terus dianut kedatipun mereka telah beragama islam, karena itu , ketika faham Qadariyah di kembangkan , mereka tidak dapat menerimanya, faham Qadariyah itu dianggap bertentangan dengan doktrin islam.

Kedua tantangan dari pemerintah ketika itu. Tantangan itu sangat mungkin terjadi karena para pejabat pemerintahan menganut faham Jabariyah. Ada kemungkinan juga pejabat pemerintah menganggap gerakan faham Qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai, dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.

2. Doktrin-Doktrin Qadariyah

Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal , pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.

Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Mansuia sendiri pula melakukan atau menjauhi perbuatan atau kemampuan dan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka Qadariyah yang lain , An-Nazzam , mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.

Dari beberapa penjelasan diatas ,dapat di pahami bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakun segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memproleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.

Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.

Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah. Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.

Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu.Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.

Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah mailiki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan. Seperti gajah yang mampu mambawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkan mempunyai daya pikir yang kreatif, demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu ,dengan daya pikir yang kreatif dan anggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan. Sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia juga dapat membuat benda lain yang dapat membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah. Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimiliki manusia. Suatu hal yang benar-benar tidak sanggup diketahui adalah sejauh mana kebebasan yang dimiliki manusia ? siapa yang membatasi daya imajinasi manusia? Atau dengan pertanyaan lain, dimana batas akhir kreativitas manusia?

Dengan pemahaman seperti ini, kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyadarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin islam sendiri. Banyak ayat Al-Qur’an yang mendukung pendapat ini,

WAHDAT AL-ADYAN

WAHDAT AL-ADYAN


LATAR BELAKANG SOSIAL KEAGAMAANNYA

A. Konsep WAhdat al-Adyan

Dunia tasawuf dikenal anyak memiliki konsep tentang al-wahdat (kesatuan), seperti wahdat al-wujud, wahdat al-syuhud, wahdat al-ummah, dan wahdat al-adyan. Berdasarkan hasil rangkuman Ahmad Amin, konsep itu diperkirakan berawal dari penjabaran formulasi kalimat tauhid. La ilaha illallah, yang mempunyai implikasi sangat dalam bagi kehidupan umat islam, sebab kalimat ini merangkum secara universal bagaimana seharusnya manusia hidup memandang diri manusia, dan alam dalam kaitannya dengan yang mutlak (Tuhan). Segala sesuatu dipandang sebagai wujud dari karya Tuhan dan fenomenakebesarannya.

Salah satu ajaran al-wahdat terseut adalah wahdat al-adyan (kesatuan agama-agama) yang banyak ditanggapi pro maupun kontra oleh berbagai kalangan. Ajaran wahdat al-adyan ini merupakan untaian dari ajaran al-hallaj yang lain, yaitu teori hulul dan nur Muhammad, wahdat al-adyan memiliki kaitan langsung karena menurut al-hallaj, nur Muhammad merupakan jalan hidayah (petunjuk) dari semua nabi. Oleh karena itu pada dasarnya agama – agama berasal dari dan kembali pada pokok yang satu, karena memancar pada cahaya yang satu, perbedaan yang ada dalam agama-agama hanya sekedar perbedaan dalam bentuk dan namanya, sedangkan hakikatnya sama, bertujuan sama, yakni mengabdi kepada Tuhan yang sama pula. Jadi semua agama, apa pun namanya berasal dari tuhan yang sama dan bertujuan sama

B. Kondisi Sosial Politik dan keagamaan sekitar lahirnya Wahdat Al - Adyan

Al-Hallaj sang pencetus wahdat al-adyan, hidup di bawah pemerintahan dinasti bani abbasiyah. Pemerintah ini berkuasa dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni sejak tahun 750-1258 M/ 132-656 H. kekuasaannya menggantikan dinasti umayyah yang telah mereka runtuhkan. Dan nama dinasti yang didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas ini dinisbatkan kepada al-abbas, paman Nabi Muhammad saw, yang merupakan nenek moyang mereka.

Selama dinasti ini berkuasa di Baghdad pola pemerintahan yang diterapkan berbeda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya yang terjadi. Berdasarkan perubahan pola tersebut para sejarawan membagi masa pemerintahan bani Abbasiyah ini menjadi lima periode.

Selama dinasti ini berkuasa di Baghdad pola pemerintahan yang diterapkan berbeda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya yang terjadi. Berdasarkan perubahan pola tersebut para sejarawan membagi masa pemerintahan bani Abbasiyah ini menjadi lima periode.

1. Dinasti Bani Abbasiyah Periode Persia I (750-847 M/ 132-232 H)

Selama rentang waktu pemerintahannya, Bani Abbasiyah telah menampilkan 38 orang khalifah. Pusat pemerintahan berada di kota baghdad, irak. Sistem oemerintahan periode pertama ini dipengaruhi oleh persia. Karena berkaitan dengan faktor kejatuhan dinasti bani umayyah, salah satunya adalah kekecewaan kaum mawali.

Selain itu ada kesamaan arah langkah antara kaum mawali yang mayoritas hidup diperkotaan dan berniaga, dengan bani abbasiyah yang termasuk bani hasyim. Keduanya lebih menyukai kebijakan menuyu kepada stabilitas, ketertiban, dan kemakmuran rakyat dan negara melalui pengembangan perdagangan, ketimbang kebijakan ekspansif yang dimiliki oleh pemerintah bani umayyah.

Dalam periode awal ini, banyak kemajuan yang patut dicatat dan sangat mengagumkan, baik dibidang politik, ekonomi maupun sosial-budaya serta dalam keagamaan. Pengaruh persia ini telah membentuk peradaban islam dan mendominasi kehidupan intelektualnya, terutama berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra, selain itu ciri yang menonjol dari periode ini, negara telah menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan guna memajukannya.

2. Dinasti Abbasiyah Periode kedua Dalam pengaruh Turki I (847-945 M/232-334 H)

Puncak kejayaan perdaban dalam islam memang terjadi dicaman al makmun (813-817 H). namun jika dicermati, masa ini pula yang menjadi titik awal munculnya embargo kemunduran dunia islam, khususnya dibidang politik. Ada beberapa kebijakan politik al-makmun yang menjadi pangkal kemunduran periode II ini. Permata, al-makmun membuat kebijakan iquisisi terhadap para tokoh masyarakat dan ulama. Kebijakan ini, menurut analisis watt, dalam upaya memperlemah pengaruh ulama konstitusionalisis dan mengangkat pamor otokratik yang kharismatis yang mampu memimpin dengan tidak hanya bergantung pada supremasi syari`ah. Kedua, al- makmun lah yang memulai merekrut serdadu bangsa turki, dengan pertimbangan bahwa mereka tidak berpihak kemana-mana dalam pertikaian politik, selain gagah berani karena pada saat itu, persaingan tak sehat terjadi antara suku arab dan persia. Ketika al-mu`tasim memerintah (833-842M/218-277H), kebijakan ini semakin diperkuat sehingga jumlah mereka telah mencapai sekitar 70.000 orang serdadu. Khalifah juga membentuk pasukan pengawal yang sebelumnya belum pernah ada. Diantara serdadu bayaran tadi ada yang dipercaya untuk menduduki jabatan tinggi, sehingga menimbulkan kemarahan dihati para penduduk lama, baik bangsa arab maupun persia.keadaan ini tentu berakibat politis pula, karena langkah tersebut dibarengi dengan penyingkiran orang-orang arab dan persia yang berpengaruh, agar mereka tidak meyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan padahal menuru carl brooklemann, sebagaimana dikutip oleh syalabi, orang – orang turki terkenal angkuh dan sangat kejam. Sehingga ketika khalifah berusaha menghindarkan perebutan kekuasaan antara orang arab dengan orang persia, justru terjerumus kejurang kekuasaan orang turki.

1. Dinasti Abbasiyah Periode kedua Dalam pengaruh Turki I (847-945 M/232-334 H)

Puncak kejayaan perdaban dalam islam memang terjadi dicaman al makmun (813-817 H). namun jika dicermati, masa ini pula yang menjadi titik awal munculnya embargo kemunduran dunia islam, khususnya dibidang politik. Ada beberapa kebijakan politik al-makmun yang menjadi pangkal kemunduran periode II ini. Permata, al-makmun membuat kebijakan iquisisi terhadap para tokoh masyarakat dan ulama. Kebijakan ini, menurut analisis watt, dalam upaya memperlemah pengaruh ulama konstitusionalisis dan mengangkat pamor otokratik yang kharismatis yang mampu memimpin dengan tidak hanya bergantung pada supremasi syari`ah. Kedua, al- makmun lah yang memulai merekrut serdadu bangsa turki, dengan pertimbangan bahwa mereka tidak berpihak kemana-mana dalam pertikaian politik, selain gagah berani karena pada saat itu, persaingan tak sehat terjadi antara suku arab dan persia. Ketika al-mu`tasim memerintah (833-842M/218-277H), kebijakan ini semakin diperkuat sehingga jumlah mereka telah mencapai sekitar 70.000 orang serdadu. Khalifah juga membentuk pasukan pengawal yang sebelumnya belum pernah ada. Diantara serdadu bayaran tadi ada yang dipercaya untuk menduduki jabatan tinggi, sehingga menimbulkan kemarahan dihati para penduduk lama, baik bangsa arab maupun persia.keadaan ini tentu berakibat politis pula, karena langkah tersebut dibarengi dengan penyingkiran orang-orang arab dan persia yang berpengaruh, agar mereka tidak meyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan padahal menuru carl brooklemann, sebagaimana dikutip oleh syalabi, orang – orang turki terkenal angkuh dan sangat kejam. Sehingga ketika khalifah berusaha menghindarkan perebutan kekuasaan antara orang arab dengan orang persia, justru terjerumus kejurang kekuasaan orang turki.

bersambung.............................