Minggu, 06 Desember 2009

pelajaran

Mutiara Al-Qur’an & Hadist


Ayahnya (Ya’kub as) berkata (kepada Yusuf as) : "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS. Yusuf: 5)

“Ingatlah, Allah telah menyembuhkanku dan aku tidak ingin membangkitkan kejahatan pada diri seseorangpun.” (HR. Bukhari Muslim)

Maksud Ayat Qur’an dan Hadist

Ayat Al-Qur’an diatas menceritakan larangan Nabi Ya’kub kepada anaknya, Nabi Yusuf agar tidak menceritakan mimpi kepada saudara-saudaranya.Kenapa tidak boleh? Karena dengan menceriitakan mimpinya ini kepada saudara-saudara Nabi Yusuf, yang akan mencelakakan dirinnya dan lebih baik disuruh tutup mulut tidak menceritakannya. Agar terhindar dari kejahatan mereka.

Sedangkan hadist diatas menceritakan ketika Nabi Saw terkena sihir (terlepad dari pandangan ulama tentang Nabi terkena sihir) kemudian Allah menyembuhkan beliau. Ketika sembuh, beliau enggan menceritakan kejadian itu kepada sahabatnya agar mereka tidak membalas sakit hati kepada orang yang telah berlaku jahat kepada Nabi Saw.

Apa Yang Bisa Kita Petik???
Terkadang satu ucapan atau satu perbuatan akan mendatangkan satu keburukan atau bahkan bisa mendatangkan kejahatan bagi yang mengucapkannya, tanpa disadari. Meskipun perkataan itu mengandung kebaikan, manfaat atau lainnya. Kenapa bisa begitu? Karena perkataan atau pembicaraan jika tidak diletakan dalam waktu tepat tentulah tidak bermanfaat atau bahkan tidak mengundang kebaikan lainnya, namun justeru akan mengundang fitnah, kejahatan dan kebenciaan.
Namun yang jelas kita berfikir dulu sebelum berbicara, apakah efeknya bagus atau tidak. Meskipun yang akan kita katakan atau yang akan kita tulis adalah kebaikan, nasihat atau apapun bentuknya.
Jangan berlindung dengan kata-kata,” Katakanlah meskipun pahit, yang saya bicarakan atau tulis adalah kebenaran, ini kan nasihat, ini kan fakta” dan yang sejenisnya.
Loh kan itu terserah gue??? Memang iya dan tidak ada yang melarangnya, namun ingat satu dosa yang dilakukan orang lain dan dosa itu akibat dari ulah kita juga apakah dikira dosa itu tidak ada pada kita??... naudzubillah.
Yo Wiis..contohnya Sir? Ketika saya lihat di tetangga sebelah banyak daun berserakan dan tidak disapu, nggak salah kalau ketemu tetangga sebelah langsung ngomong, “ Pak. Maaf yah sapu donk daunnya supaya bersih…” Ngak salah saya ngomong gitu, tapi kemungkinan besar orang itu akan marah dan mungkin sekali waktu akan membalas karena tersinggung dengan ucapan saya itu. Jadi gimana dunk??? Mungkin sebaiknya saya cari waktu yang tepat, ajak bicara dulu, atau berkunjung dulu ke rumahnya atau apalah.
Contoh lain,…… Emang umat Islam itu dah lupa ama kitab sucinya….Quran cuman dibaca aja…kagak pernah diamalin… Wuaahh bangsa ini dah rapuh...." kira-kira ada yang tersinggung nggak baca comment seperti ini??? dan seterusnya.
Silahkan cari contoh lainnya dan banyak tersebar di FB

Doa Dari Hadist

ALLAHUMMA ASHLIH LI DINII ALLADZI HUWA ‘ISHMATU AMRI WA ASHLIH LI DUN-YAYA ALLATI FIHA MA’ASYI, WA ASHLIH LI AKHIRATI ALLATI FIHA MA’ADI, WAJ’ALLIL HAYATA ZIYADATAN LI FI KULLI KHAIRIN, WAJ’ALIL MAUTA RAHATAN LI MIN KULLI SYARRIN.

“Ya Allah baguskan agamaku karena ia menjadi peganganku. Baguskan duniaku karena disitulah kehidupanku. Dan baguskan akhiratku karena itulah tempat aku kembali. Jadikan kehidupanku ini sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal soleh dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahat dari semua keburukan. “ (HR. Muslim)

kutipan

Rernungan Ayat & Hadist Nabawi

“ Jika pagi hari datang pada seorang anak Adam, semua anggota tubuh mengerumuni lidah & berkata,” Bertakwalah kepada Allah, kami ini bergantung padamu. Jika kau lurus, kamipun lurus. Jika kau bengkok, kami juga ikut bengkok.” (HR. Ahmad & Turmuzi, hadist hasan)

“Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”( QS. Qaaf: 18)

'Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam.'' (HR Bukhari dan Muslim).

'Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya.'' (HR Timridzi).

Barang siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua dagunya mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) maka aku menjamin untuknya surga." (HR. Bukhari).

Bukankah daging manusia ini digunakan redaksi Al-Qur’an sebagai pernyataan haram dan buruknya ghibah? Jeleknya orang yang membicarakan orang lain:

“Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ilmu Mustalah Hadist

Yaitu ilmu yang mempelajari tentang pokok dan kadiah yang berkaitan dengan sanad satu hadist dan matan hadist ditinjau dari diterima (qabul) atau tidaknya (raddu/mardud) sebuah hadist.

Hadits
Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik berupa ucapan (qauly), perbuatan (fi'ly), ketetapan (taqriry), atau dengan sifat.

Kesimpulan

# Hadits qauly: Adalah hadits yang berisi tentang ucapan Nabi Saw

# Hadits fi'ly: Hadist yang berupa perbuatan Nabi Saw yang dideskripsikan oleh Sahabat.

# Hadits taqriry: Adalah hadits yang berisi tentang persetujuan atau ketetapan Nabi Saw terhadap ucapan atau perbutan yang dilakukan oleh Sahabat, termasuk diamnya Nabi Saw ketika melihat satu perbuatan sahabat di hadapan beliau.


Atsar
Ada dua pengertian tentang arti Atsar:

# Sama dengan makna Hadist

# Sesuatu yang datang dari Sahabat atau Tabi’in, baik berupa ucapan atau perbuatan.


Khabar
Ada tiga pendapat berkenaan dengan arti khabar, yaitu:
# Menurut pandangan ulama hadist Khabar ini semakna dengan hadist

# Menurut sebagian pandangan Khabar adalah sesuatu yang bukan berhubungan dengan hadist, misalnya yang berhubungan dengan sejarah Nabi dan lainnya.

# Khabar lebih umum dari pada hadist, artinya khabar bermakna sesuatu yang datang dari Nabi Saw atau dari yang lain, seperti dari sahabat Jika disebut khabar berarti termasuk di dalamnya makna hadist, sedangkan hadist belum tentu disebut khabar, karena Khabar berarti sesuatu yang datang dari selain Nabi juga


Kesimpulan
# Kata Hadist sendiri selain sesuatu yang disandarakan kepada Nabi Saw, namun juga terkadang berarti sesuatu yang datang dari sahabat atau tabi’in. Namun umumnya hadist sendiri dimaksudkan seperti definisi hadist diatas

# Terkadang makna Atsar dan Khabar berarti sesuatu yang datang dari Nabi Saw, ataupun yang datang dari Sahabat atau Tabi’in.


Sanad
Sanad atau isnad (jamak’plural) secara bahasa artinya sandaran, maksudnya:
Mata rantai atau jalan yang bersambung sampai kepada matan (isi hadist) yang terdiri dari para rawi-rawi yang meriwayatkan matan hadits dan menyampaikannya.
Sanad dimulai dari rawi yang awal (sebelum pencatat hadits) dan berakhir pada orang sebelum Rasulullah Saw yakni Sahabat.
Misalnya Bukhari meriwayatkan satu hadits, maka Bukhari dikatakan mukharrij atau mudawwin (yang mengeluarkan hadits atau yang mencatat hadits), rawi yang sebelum Bukhari disebut sanad pertama sedangkan Sahabat yang meriwayatkan hadits itu dikatakan sanad terakhir.
Contoh lain: Bukhari meriwayatkan dari A terus B, C, D, E. Dan E dari Nabi Saw.
Si A ini disebut dengan sanad pertama, sedangkan E sanad terakhir. Sedangkan A disebut rawi, B rawi dan seterusnya. Sedangkan mata rantai yang menghubungkan antara A, B, C, D,dan E disebut dengan Sanad.

Matan Hadist
Adalah isi, ucapan atau lafazh-lafazh hadits yang yang diriwayatkan atau yang dismpaikan oleh sanad terakhir.

Kedudukan Hadist Terhadap Al-Qur’an
# Bayan tafsir:
Menjelaskan apa yang terkandung dalam Al Qur'an dan penjelasan ini berupa:

1. Menjelaskan Ayat Mujmal (umum):
misalnya, Al Qur'an mewajibkan wudhu bagi orang yang akan sholat. Hadits menjelaskan rincian wudhu, bilangan membasuh dan batas-batas membasuh.
2. Membatasi Yang Mutlaq:
Misalnya Al Qur'an menetapkan hukum potong tangan bagi pencuri. Hadits menjelaskan tentang batasan nilai barang yang dicuri yang menyebabkan terjadinya hukum potong tangan.
3. Mentakhshish atau mempertegas kalimat 'am (kalimat umum)
Misalnya Al Qur'an menjelaskan tentang waris dan orang-orang yang berhak mendapat warisan. Hadits memberi pengecualian bagi orang yang membunuh tidak berhak mendapat waris.

# Bayan Taqrir:
Menjelaskan ketetapan hukum yang terdapat dalam Al-Qur'an. Misalnya, menjelaskan wajibnya wudhu bagi orang yang akan shslat sebagaimana Al Qur'an telah menjelaskan demikian.

# Bayan Tasyri':
Menetapkan ketetapan hukum baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Misalnya, menetapkan hukum bagi pelaku zina muhshon (orang yang telah berkeluarga).


Sumber Bacaan:


Ushulul Hadist Dr. Muhammad Ujaj Khatib
Taysir Mustalah Hadist
Tadrib ar-Rawi, Imam Nawawi/ Jalaludin as-Suyuthi

Hadist Mutawatir dan Hadist Ahad

Hadist dilihat dari sampainya kepada kita ada dua macam, yaitu:
A. Hadist Mutawatir
B. Hadist Ahad

I. Hadist Mutawatir
Dari segi bahasa, mutawatir berarti sesuatu yang datang secara beriringan tanpa diselangi antara satu sama lain
Hadist Mutawatir berarti hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta dari sejumlah rawi sampai akhir sanad.
Maksdunya Hadits mutawatir itu adalah hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut akal mereka tidak mungkin sepakat berbuat dusta, dan banyaknya rawi ini ini seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya dalam setiap tingkatan (tabaqat/generasi).

II. Syarat Hadist Mutawatir
# Diriwayatkan oleh banyak perawi. Meskipun muhaditsin (ahli hadist) berbeda pendapat mengenai seberapa banyak jumlah sedikitnya perawi ini, namun pendapat yang dipilih setidaknya mencapai 10 orang

# Banyaknya orang yang meriwayatkan ini harus ada dalam setiap tingkatan (tabaqat/generasi)

# Menurut akal tidak mungkin perawi ini mempunyai kesepakatan untuk berdusta ketika meriwatkan hadist. (Artinya hadist mutawatir ini memiliki kekuatan hukum yang pasti karena banyaknya orang yang meriwayatkan, dan riwayat ini datang dari sejumlah rawi, di setiap generasi, yang berasal dari beberapa daerah pula. Sehingga ketika menerima hadist ini akal mempercayainya karena tidak mungkin dari sekian banyaknya rawi mereka sepakat untuk memalsukan hadist ini.

# Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan pemberitaanya bersifat indrawi ( proses pendengaran dan penglihatan langsung ). Berupa rangkuman suatu peristiwa ke peristiwa yang lain atau hasil dari kesimpulan dari satu dalil. Dan bukan penerimaan oleh akal / logika murni seperti teori filsafat tentang alam dan ketuhanan, yang tidak dapat di kategorikan sebagai suatu yang mutawatir ,karena tidak ada jaminan kebenaran logika yang benar.


III. Kekuatan Hukum Hadist Mutawatir
Hadits mutawatir memiliki klasifikasi daruri, yaitu kekuatan hukum yang kuat, Dan harus diterima dengan bulat karena datangnya melalui proses qath’i (pasti), seakan-akan seseorang mendengar langsung dari Nabi Muhammad Saw.
Sedangkan meneliti kembali para rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan daya hafalnya tidak diperlukan lagi, karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. Seperti pengetahuan kita akan adanya kota London, Makkah, Madinah, Jakarta, New York, dan lainnya; tanpa membutuhkan penelitian dan pengkajian. Sedangkan mengingkari hadits mutawatir dianggap kufur.

IV. Pembagian Hadist Mutawatir
Hadist Mutawatir dibagi dua:

1. Mutawatir Lafzi/ Lafaz
Yaitu apabila sama dalan makna dan lafznya, contohnya:
"Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku (Rasulullah Saw) maka dia akan disiapkan tempat duduknya dari api neraka.”
Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari 70 orang shahabat, dan diantara mereka termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga.

2. Mutawatir Ma’nawi
Yaitu mutawatir dalam maknanya sedangkan lafaznya tidak. Misalnya, hadits-hadits tentang mengangkat tangan ketika berdoa. Hadits ini telah diriwayatkan dari Nabi sekitar 100 macam hadits tentang mengangkat tangan ketika berdo'a. Dan setiap hadits tersebut berbeda kasusnya dari hadits yang lain. Sedangkan setiap kasus belum mencapai derajat mutawatir. Namun bisa menjadi mutawatir karena adanya beberapa jalan dan persamaan antara hadits-hadits tersebut, yaitu tentang mengangkat tangan ketika berdo'a.

V. Keberadaan Hadist Mutawatir
Hadits mutawatir pada kenyataanya jumlahnya cukup banyak, namun bila dibandingkan dengan hadits ahad, maka jumlahnya sangat sedikit.
Salah satu contoh hadist mutawatir adalah:

Hadits mengusap dua khuff, hadits mengangkat tangan dalam shalat, hadits tentang telaga, dan hadits : "Allah merasa senang kepada seseorang yang mendengar ucapanku....." "Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf", hadits "Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun untuknya rumah di surga", hadits "Setiap yang memabukkan adalah haram", hadits "Tentang melihat Allah di akhirat", dan hadits "tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid.”

Meskipun ada di kalangan muhaditsin yang menyatakan hadist mutawatir itu hanya sedikit jumlahnya. Itu hanya berkisar pada keberadaan hadit mutawatir lafzi, sedangkan hadist mutawatir ma’nawi banyak jumlahnya. Dengfan demikian perbedaan pandangan ini hanya berkisar tentang banyak atau tidaknya hadist mutawatir lafzi saja.

Daftar Pustaka

Ushulul Hadist, Dr. Muhammad Ujaj Khatib
Taysir Mustalah Hadist, Dr. Mahmud Thahan
Tadrib ar-Rawi, Imam Nawawi/ Jalaludin as-Suyuthi
Dirasat Fi Hadist Nabawi

Pembagian Hadist

I. Hadist Ahad
Yaitu hadits yang tidak mencapai derajat hadits mutawatir karena kurangnya syarat yang terdapat dalam hadist Mutawatir.

II. Pembagian Hadist Ahad

A. Hadits Masyhur

Diambil dari isim maf’ul dari kata: شّهِرَ الأمر يُشْهِرُهُ شُهْرَةً هُوَ مَشْهُوْرٌ
Artinya sesuatu yang telah dikenal.
Sedangkan menurut istilah ulama hadist ialah:
Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih pada setiap generasi (tabaqat) tapi tidak mencapai derajat mutawatir (rawinya tidak sebanyak atau kurang dari hadist mutawatir).
Contoh:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ

“Sesunggguhnya Allah tidak mengambil ilmu begitu saja dari para hamba-hamba-Nya …..”

Hadits ini diriwayatkan oleh tiga orang sahabat, yaitu Ibnu Umar, Aisyah dan Abu Hurairah.

Kedudukan Hadist Masyhur
Hadits ini bisa diklasifikasikan shahih, hasan ataupun dla’if (lemah) tergantung penilaian dari sisi rawi maupun sanadnya

Hadist Masyhur Menurut Pandangan Ulama
Terkadang ada perbedaan antara definisi hadist masyhur menurut ulama hadist dan menurut ulama selain dari ulama hadist (muhaditsin)
Hadist Masyhur menurut muhaditsin seperti yang telah dijelaskan di atas. Sedangkan masyhur menurut menurut pandangan orang banyak berbeda definisinya. Karena masyhur disini menurut mereka adalah dikenal luas dan terkadang hadits tersebut adakalnyamutawatir, atau berupa hadits ahad, bisa jadi shahih, hasan dla’if, bahkan maudlu’ (palsu). Sedangkan hadist masyhur selain menurut definisi muhaditsin terkadang ada dari kalangan ulama, ahli fikih, ahli usul, di kalangan ulama nahwu dan lainna.

B. Hadits Aziz
Diambil dari akar kata عَزَّ يَعِزُّ
Yaitu sedikit sekali atau dari kata عَزَّ يَعِزُّ bermakna kuat dan keras.
Allah berfirman:

فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ
“Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga. (QS. Yaasin : 14)

Definisi: Hadits yang diriwayatakan sekurangnya dua orang rawi atau lebih dari dua orang rawi atau lebih
Contohnya
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya dan anaknya.”
Hadits ini dirwayatkan oleh dua sahabat, yaitu Anas . dan Abu Hurairah . Kemudian ada dua orang meriwayatkan dari Anas, yaitu Qatadah . dan Abdul Aziz bin Shuhaib . Dua orang meriwayatkan dari Qatadah, yaitu Syu’bah dan. Sa’id Dan dua orang meriwayatkan dari Abdul Aziz bin Shuhaib, yaitu Isma’il bin Aliyah dan Abdul Warits bin Sa’id . Dan dari masing-masing mereka itu para perawi lainnya meriwayatkan hadits ini.

Kedudukan Hadist Aziz
Hadits ini ada yang shahih, hasan dan dla’if. Karena harus diperiksa lebih lanjut dari segi rawi dan sanadnya.

C. Hadits ghorib
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi di salah satu generasi (tabaqat) sanadnya.
Contohnya Hadits :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya masing-masing manusia itu akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.

Hadits ini diriwayatakan hanya oleh Umar bin Khatab saja. Sedangkan yang meriwayatkan dari Umar hanya

Kedudukan Hadist Ghorib
Hadits ini terdapat yang shahih, hasan dan dla’if.

Pembagian Hadist Ghorib
Hadist ghorib sering juga disebut dengan hadist Fard namun sebagian muhadist menganggap bahwa hadist ghorib dan hadist far dada perbedaan antara keduanya. Ibnu Hajar Al-Asqalani sendiri cenderung menganggap bahwa keduanya sama saja dan perbedaannya hanya terletak pada penggunaan istilah saja.
Hadist Ghorib dibagi dua:
1. Ghorib Mutlak/ Fard Mutlak
2. Ghorib Nisbi/ Fard Nisbi 


Mempelajari Hadist


Kewajiban Mempelajari Hadist
Inti ajaran Islam dibangun di atas dua pondasi: Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya memiliki kaitan yang sangat erat Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak bisa diartikan dengan benar dan tepat tanpa bantuan keterangan dari Sunnah Nabi Saw. Salah satu contoh adalah tentang tata cara shalat yang tidak mungkin diraktekan tanpa bantuan dari Sunnah Nabi. Karena Al-Qur’an sendiri tidak menyebutkan tata cara shalat itu dan Al-Qur’an hanya menegaskan hanya wajibnya shalat lima waktu itu saja.
Karena pentingnya pengetahuan tentang hadist ini, Imam Abu Hanifah pernah berujar: ” Tanpa Sunnah tak seorangpun dari kita yang dapat memahami Al-Qur’an.”
Mempelajari hadits Nabi SAW mempunyai keistimewaan tersendiri sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya bahwa orang yang mempelajari dan menghafal hadits-haditsnya akan dianugerahi oleh Allah Swt wajah yang bercahaya, penuh dengan pancaran nur keimanan yang menandakan ketenangan hati dan keteduhan batin. Sabda beliau Saw:
Allah membuat bercahaya wajah seseorang yang mendengar dari kami sebuah hadits, kemudian menghafalnya dan menyampaikannya …” (Abu Daud dalam Sunannya dan At-Tirmidzi dalam Sunannya).

Pahala Apa Yang Diproleh Bagi Pelajar Hadist..??

# Wajahnya Berseri-Seri
Rasulullah Saw bersabda:
“Semoga Allah menjadikan berseri-seri wajah orang yang mendengarkan sabdaku lalu memahaminya dan menghafalkannya kemudian dia menyampaikannya, karena boleh jadi orang yang memikul (mendengarkan) fiqh akan menyampaikan kepada yang lebih paham darinya” (HR. Ashabus Sunan)

Sufyan bin ‘Uyainah (pemuka hadist di awal Islam) pernah berkata : “Tidak seorang pun yang menuntut/mempelajari hadits kecuali wajahnya cerah / berseri-seri disebabkan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di hadits tersebut).”

# Paling banyak bershalawat kepada Nabi
Penuntut Ilmu hadist adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada Nabi Saw
Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
Bershalawat setelah mendengar atau membaca tulisan Muhammad merupakan salah satu bentuk kesunnahan. Dan para penuntut ilmu hadist pastinya akan banyak membaca shalawat ketika mendengar atau membaca sebuah hadist dan ini dilakukan setiap waktu dan lidahnya senantiasa basah dengan shalawat. Shidiq Hasan Khan (salah seorang pemuka hadist kontemporer) pernah mengatakan: “….. Para penuntut ilmu hadist ini adalah orang yang paling pantas bersama Rasulullah Saw di hari kiamat, dan merekalah yang paling berbahagia mendapatkan syafa’at Rasulullah Saw…. maka hendaknya anda wahai pencari kebaikan dan penuntut keselamatan menjadi Ahli Hadits atau yang berusaha untuk itu.”

# Mendapatkan Berkah Dunia Akhirat
Sufyan Ats Tsaury berkata : “Saya tidak mengetahui amalan yang lebih utama di muka bumi ini dari mempelajari hadits bagi yang menginginkan dengannya wajah Allah Ta’ala.“ Ia menambahkan pula: “Mendengarkan atau mempelajari hadits merupakan kebanggaan gi yang menginginkan dengannya dunia dan merupakan petunjuk bagi yang menginginkan dengannya akhirat”


Besar Sekali Pahala Yang Bepergian Untuk Belajar Hadist
Seorang muslim yang bepergian hanya untuk belajar atau mendengarkan hadist, baik belajar di pesantren, menghadiri majelis taklim atau yang lainnya akan mendapatkan pahala besar di sisi Allah Swt. Ilmu hadist seperti ilmu Islam lainnya wajib dipelajari seperti keharusan seorang muslim belajar matematika, biologi atau ilmu pengetahuan dasar lainnya.
Allah Swt berfirman:

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.At Taubah:122)

Ibrahim bin Adham berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencegah bala’(bencana) pada ummat ini disebabkan rihlah yang dilakukan oleh para penuntut ilmu hadits”

Hadist Pada Zaman Sahabat

Hadist Pada Zaman Sahabat (Khulafa ar-Rasyidin)
Sahabat adalah orang yang pernah bertemu Nabi Saw dan beriman kepada beliau. Sahabat Besar (Kibar Sahabat) berarti sahabat yang sering bersama Nabi Saw, dan banyak belajar dari beliau seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab. Sahabat Kecil (Shighar Sahabat) adalah para sahabat yang pernah bertemu dengan Nabi Saw kemudian beriman di hadapan beliau. Namun karena satu sebab mereka jarang bertemu Nabi, ataupun berada di kota lainnya dan lainya.
Setelah wafatnya Rasulullas Saw, sahabat Nabi yang pertama menjadi khalifahh adalah Abu Bakar ash-Shiddiq (wafat 13 H/634 M), kemudian disusul oleh Umar bin Khaththab (wafat 23 H/644 M), Ustman bin Affan (wafat 35 H/656 M), dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/611 M). keempat khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-Khulafau al-Rasyidin dan periodenya disebut dengan zaman sahabat besar (Kibar Sahabat)
Sesudah Ali bin Abi Thalib wafat, maka berakhirlah era sahabat besar dan menyusul era sahabat kecil. Dalam masa itu muncullah tabi’in besar yang bekerja sama dalam perkembangan pengetahuan dengan para sahabat Nabi yang masih hidup pada masa itu. Di antara sahabat Nabi yang masih hidup setelah periode Khulafa al-Rasyidin dan yang cukup besar peranannya dalam periwayatan hadis diantaranya: ‘Aisyah (W. 57 H/677 M), Abu Hurairah (W. 58 H/678 M), Abdullah bin Abbas (w 68 H/687 M), Abdullah bin Umar bin Khattab (W. 73 H/692 M), dan Jabir bin Abdullah (W. 78 H/697 M)

Para Sahabat Sangat Berhati-hati Dalam Meriwayatkan Hadist
Abu Bakar merupakan sahabat Nabi yang pertama-tama menunjukkan kehati-hatiannya dalam periwayatan hadis. Pernyataan al-Dzahabi ini didasarkan sikap Abu Bakar ketika dihadapai satu kasus waris untuk seorang nenek. Suatu ketika, ada seorang nenek menghadap kepada khalifah Abu Bakar, meminta hak waris dari harta ynag ditinggalkan oleh cucunya. Abu Bakar menjawab bahwa dia tidak melihat petunjuk al-Qur’an dan praktek Nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek. Abu Bakar lalu bertanyaa kepada para sahabat. Mughirah bin Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar, bahwa Nabi telah memberikan bagian waris kepada nenek sebesar seperenam (1/6) bagian. Al-Mughirah mengaku hadir ketika Nabi menetapkan demikian itu. Mendengar pernyataan tersebut, Abu Bakar meminta agar al-Mughirah menghadirkan seorang saksi. Lalu Muhammad bin Maslamah memberikan kesaksian atas kebenaran pernyataan Mughirah itu. Akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan memberikan seperenam bagian berdasarkan hadis Nabi yang disampaikan Mughirah tersebut.
Kasus dia atas menunjukan, bahwa Abu Bakar tidak segera menerima riwayat hadis, sebelum meneliti periwayatannya. Jika ternyata ada seorang sahabat pernah mendengar hukumnya dari Nas Saw, maka ia harus menghadirkan seorang saksi.

Seruan Umar Agar Teliti Meriwayatkan Hadist
Sebagaimana Abu Bakar, khalifah selanjutnya, Umar bin al-Khaththab juga terkenal sangat hati-hati dalam periwayatan hadis. Hal ini terlihat misalnya, ketika Umar mendengar hadis yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab, Umar baru bersedia menerima hadis dari Ubay, setelah para sahabat yang lain, seperti Abu Dzar menyatakan telah mendengar pula hadis Nabi tentang apa yang dikemukakan oleh Ubay tersebut. Akhirnya Umar berkata kepada Ubay :
”Demi Allah, sungguh saya tidak menuduhmu telah berdusta. Saya bertindak demikian karena saya ingin berhati-hati dalam periwayatan hadis Nabi”.

Selain itu, Umar juga menekankan kepada para sahabatnya agar tidak meriwayatkan hadis di masyarakat. Alasannya, agar masyarakat tidak terganggu konsentrasinya untuk membaca dan mendalami Al-Qur’an.
Alasan lainnya adalah karena dengan meriwayatkan hadist ketika, jika tidak berhati-hati akan menyebabkan banyak kesalahan dalam periwayatan dan ini bersumber pada sabda Nabi Saw sendiri:
“Seorang dianggap pembohong jika membicarakan (meriwayatkan) sesuatu yang didengarnya (jika tidak benar).” (HR. Muslim)
Hal lain yang menyebabkan ketatnya penerimaan hadist oleh kedua khalifah ini, karena ditakutkan hadist itu diriwayatkan dengan tidak benar, tergesa-gesa sehingga menyebabkan kesalahan dalam periwayatan. Jika riwayat itu salah maka hal itu dianggap pembohong, dan membohongi Nabi sendiri. Ancaman Nabi Saw bagi yang membohongi dirinya adalah neraka seperti ancaman beliau Saw:

“Barang siapa membohongi diriku, maka bersiaplah tempat duduknya dari api neraka.” (HR. Bukhari)

Implikasi Seruan Dua Khalifah
Kehatian-hatian dua orang khalifah ini, atau bisa dikatakana sangat hati dalam menjaga dan melestarikan hadist akhirnya memumpayai implikasi positif. Dalam arti bahwa semua sahabat yang mendengar dari Nabi Saw (hadist) haruslah teliti. Sehingga otensitas hadist akhirnya bisa terjaga dan interpreatsi pemahaman hadist akhirnya tidak terlalu lebar khususnya bagi generasi Islam selanjutnya.
Seruan ini tidak saja hanya berlaku bagi para sahabat, bahkan pata tabi’in pun sangat berhati dalam meriwayatkan atau menerima sebuah hadist dan keharusan adanya saksi terlebih dahulu. Bahkan di majelis-majelis ilmu tidak dibenarkan meriwayatkan hadist lebih dari tiga atau empat hadist. Agar supaya para santri/mahasiswa/ tholib dapat memahami hadist dengan baik dan mencernanya dengan sempurna.
Bahkan sering dikatakan sebuah anekdot jika ada orang yang banyak meriwayatkan hadist dengan tidak teliti:
“Orang yang meriwayatkan hadist, sesungguhnya dia memasukan sesuatu antara Allah dan orang itu, dan lihat saja apa yang dimasukannya (maksudnya setan).”

Pelestarian Hadist dibawah Pimpinan Utsman dan Ali
Dua khalifah ini, sebagaimana dua khalifah sebelumnya, sangat teliti pula dalam menjaga, melestarikan hadist dan ketat sekali dalam periwayatan.
Namun tindakan khalifah Utsam dan Ali tidak seketat dua pendahulunya, karena dimungkinkan beberapa sebab:
Meluasnya wilayah Islam dan banyak mayarakat daerah penaklukan masuk Islam, dengan demikian dibutuhakan tenaga pengajar untuk mengajar (Hadist ketika itu adalah sumber pengajaran Islam selain Qur’an).
Boleh dikatakan pula sulit mengontrol periwayatan hadist setelah daerah kekuasaan Islam terbentang luas.
Khalifah Utsman lebih sedikit meriwayatkan hadist yang terdapat dalam kitab-kitab hadist saat ini. Karena mungkin sekali kegiatan pencatatan Qur’an menjadi kagiatan utama yang dilakukan beliau selain menghadapi bebrbagai masalah. Sehingga waktu pengajaran beliau sangat sediit dibanding ketiga Khalifah lainnya.
Sedangkan Ali bin Abi Thalib banyak meriwayatkan hadist.

Sikap Para Sahabat Lainnya Terhadap Hadist

1. Para Sahabat yang banyak meriwayatkan Hadist
Namun ada beberapa sahabat yang banyak pula meriwayatkan hadist diantaranya Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Siti A’isyah, Abu Darda, Abu Dzar Al-Ghifari. Namun para sahabat ini tidak sembarangan menriwayatkan tanpa ketelitian.
Abu Hurairah misalnya pernah ditanya ketika diketahui ia banyak meriwayatkan hadist:” Apakah kamu bersama kami ketika Nabi Saw berada di tempat ini? (Maksudnya: Abu Hurairah adalah sahabat yang hanya 2 tahun saja bersama Nabi sebelum beliau wafat. Dan ia ditanya agar memastikan bahwa hadist yang diriwayatkan benar-benar dari Nabi atau bukan hadist palsu. Pen) Abu Hurairah,” Benar! Aku mendengar Nabi Sae bersabda: Barang siapa berbohong atas namaku, maka bersiaplah bahwa tempat duduknya kelak dari apai neraka.”
Begitu pula dengan siti A’isyah meskipun dikenal banyak meriwayatkan hadist, namun ia menolak jika hadist itu bertentangan dengan Qur’an.
Ketika ia mendengar hadist yang menyatakan bahwa orang mati itu diadzab Tuhan karena ditangisi keluarganya. Bunyi hadis itu. ‘:”… sesungguhnya orang mati itu diadzab karena tangis keluarganya …”
Aisyah menolak hadis itu dengan nada tanya :”Apakah kalian lupa firman Allah : … seseorang tidak akan menanggung/memikul dosa orang lain

2. Sahabat Yang Sedikit Meriwayatkan Hadist
Beberapa sahabat yang termasuk sedikit dalam meriwayatkan hadist ketika itu Zaid Ibn Arqam, Zubair ibn ‘Awam, ‘Imran ibn Hashin, Anas Bin Malik, Saad bin Abi Waqqas dan lainnya.
Anas bin Malik pernah berkata, sekiranya dia tidak takut keliru niscaya semua apa yang telah didengarnya dari Nabi dikemukakan pula kepada orang lain. Pernyataan Anas ini memberi petunjuk bahwa tidak seluruh hadis yang pernah didengarnya dari Nabi disampaikannya kepada sahabat lain atau kepada tabi’in, dia berlaku hati-hati dalam meriwayatkan hadist.
Saad bin Abi Waqqash (w. 55 H/675 M), pernah ditemani oleh al-Sa’ib bin Yazid italics dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah pergi-pulang. Selama dalam perjalanan, Sa’ad tidak menyampaikan sebuah hadis pun kepada al-Sa’ib. Apa yang dilakukan Sa’ad itu tidak lepas dari sikap hati-hatinya dalam periwayatan hadist
Sikap hati-hati para sahabat Nabi tersebut bukan hanya ketika menyampaikan hadis saja, melainkan juga ketika menerimanya. Tidak jarang seorang sahabat terpaksa menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk mendapatkan atau mencocokkan sebuah hadis saja.

Rihlah Ilmiah Para Sahabat Dalam Mencari Ilmu (Mencari Hadist)
Para sahabat, yang pernah bersama Nabi Saw baik dalam keadaan suka dan duka, yang tahu turunya wahyu, mereka pula murid-murid langsung dari Rasulullah Saw, tidak pernah lelah dalam mencari ilmu. Mencari ilmu ketika itu adalah dengan mendengar atau mencari hadist, karena hadist adalah sumber ilmu, selain sebagai penafsir Qur’an.
Abu Ayyub Anshari misalnya yang bertempat di MaAdinah pernah mendatangi Uqbah bin ‘Amir di Mesir hanya untuk menanyakan satu hadist saja.
Begitu pula dengan Jabir bin Abdullah seperti yang tercantum dalam riwayat Bukhari, bahwa ia pernah berjalan sebulan penuh dari Madinah ke Syam (Jordan, Syria sekarang) hanya untuk mencari satu hadist saja yang belum ia dengar sebelumnya.
Begitu pula dengan sahabat lainnya, mereka banyak belajar pula dari sahabat lainnya tanpa malu-malu

Sejarah Hadist


Sejarah Perkembangan Hadist
Ada beberapa periode untuk mengambarkan perjalanan hadist hingga pembukuaanya yaitu:
Periode pertama:
Yaitu saat turunya wahyu dan pembentukan hukum dan dasar-dasarnya dari permulaan kenabian hingga beliau wafat pada tahun 11 Hijriyah.
Periode kedua,
Hadist di masa khulâfa ar-râsyidin yang dikenal dengan masa pembatasan riwayat.
Periode ketiga, masa perkembangan riwayat, yaitu masa sahabat kecil dan tabiin besar.
Periode keempat,
Masa pembukuan hadis (permulaan abad kedua Hijriyah).
Periode kelima
Mmasa pentashhikan dan penyaringan (awal abad ketiga).
Periode keenam
Masa memilah kitab-kitab hadist dan menyusun kitab-kitab jami’ (nama istilah kitan hadist yang masih bercampur antara hadist sahih, hasan, dhaif ataupun maudhu) yang khusus (awal abad keenam sampai tahun 656 h.)
Periode ketujuh,
Masa membuat syarah, kitab-kitab takhrij, pengumpulan hadis-hadis hukum dan membuat kitab-kitab jami’ yang umum.

PERIODE PERTAMA
Hadis pada Masa Rasulullah Saw

Para sahabat sangat memperhatikan apapun bentuknya yang berkenaan dengan Rasulullah baik berupa perkataanya, kehidupannya dan yang paling penting yang berkenaan dengan hukun-hukum Islam.
Di samping sebagai Nabi, Rasulullah juga merupakan panutan dan tokoh masyarakat. Beliaupun sebagai pemimpin, bagian dari masyarakat, panglima perang, kepala rumah tangga, teman, maka, tingkah laku, ucapan dan petunjuknya dianggap ajaran untuk berdialog dengan sahabat di berbagai media, dan para sahabat juga memanfaatkan hal itu untuk lebih mendalami ajaran Islam.

Penerimaan & Penghafalan Hadist Oleh Sahabat

Setelah para sahabat mendengar dari Rasul, merekapun mengisahkan kembali apa yang mereka lihat atau dengar kepada keluarga, teman-teman, tetangga atau siapa saja yang mereka temui. Sebagian sahabat bahkan sengaja datang ke kediaman Nabi meskipun jauh letaknya hanya untuk bertanya. Diriwayatkan ada Kabilah di luar kota Madinah secara rutin mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka kembali ke kampungnya, mereka segera mengajari kawan-kawannya.
Para sahabat yang sudah menerima hadist-hadist dari Nabi, sebagian besar menghafalnya,dan hanya beberapa yang menulis hadis dalam buku. Sebab itu kebanyakan sahabat menerima hadis melalui mendengar dengan hati-hati apa yang disabdakan Nabi. Ketika menghafal terekamlah lafal dan makna itu dalam sanubari mereka. Mereka dapat melihat langsung apa yang Nabi kerjakan. atau mendengar pula dari orang yang mendengarnya sendiri dari nabi, karena tidak semua dari mereka pada setiap waktu dapat mengikuti atau menghadiri majelis Nabi. Kemudian para sahabat menghapal setiap apa yang diperoleh dari sabda-sabdanya dan berupaya mengingat apa yang pernah Nabi lakukan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang lain secara hapalan pula.
Diantara sahabat yang mencatat hadis yang didengarnya dari Nabi Saw antara lain Abu Hurairah yang meriwayatkan hadist (dalam kitab-kitab hadist sekarang) sebanyak 5.374 buah hadis. Kemudian para sahabat yang paling banyak hapalannya sesudah Abu Hurairah ialah:
1. Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis.
2. Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis.
3. Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis.
4. Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis.
5. Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis.
6. Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis.

Cara Sahabat Menerima Hadist

Ada beberapa cara yang ditempuh para sahabat untuk mendapatkan hadist antara lain:

  • Para sahabat selalu mendatangi majelis ilmu yang diselanggarakan Rasulullah Saw. Beliaupun selalu menyediakan waktu untuk mengajar para sahabat. Jika ada seorang sahabat absen, sahabat lain yang hadir akan memberitahukan pengajaran yang di dapat. Bahkan banyak sahabat yang diam-diam memperhatikan kehidupan Nabi meskipun harus bertanya kepada istri-istri beliau


  • Rasulullah sendiri yang mengalami persoalan kemudian memberitakan kepada sahabat. Sahabat lain yang mendengar langsung menyampaikan lagi pada keluarganya dan sahabat lainnya. Sehingga sabda Nabi ini cepat tersebar luas. Jika yang hadir sedikit, Rasulullah memerintahkan agar yang tidak hadir diberitahu


  • Para sahabat sendiri yang langsung bertanya kepada Nabi tanpa malu-malu ketika ada persoalan yang menimpa mereka. Ataupun jika ada seorang sahabat yang merasa malu untuk bertanya, iapun mengutus sahabat lainnya.



  • Semangat Para Sahabat Dalam Menerima & Menyampaikan Hadist
    Minat yang besar para sahabat Nabi untuk menerima dan menyampaikan hadist disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
  • Dinyatakan secara tegas oleh Allah, bahwa Nabi Muhammad adalah panutan utama (uswah hasanah) yang harus diikuti oleh orang-orang beriman dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka. Allah berfirman:
    “ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” (QS. AL-Ahzab: 21)


  • Allah dan Rasul-Nya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang pengetahuan (ilmu Islam khususnya). Seperti yang terdapat dalam Qur’an:

    "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az Zumar : 9)

    Para sahabat berusaha memperoleh ilmu yang banyak yang pada zaman Nabi, sumber pengetahuan adalah Nabi sendiri.


  • Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menyampaikan pengajaran kepada mereka yang tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi orang yang tidak hadir akan lebih paham daripada mereka yang hadir mendengarkan langsung dari Nabi. Perintah ini telah mendorong para sahabat untuk menyebarkan apa yang mereka peroleh dari Nabi.



  • Kesimpulan
  • Para sahabat sangat antusias mencari dan mendengarkan hadist Nabi Saw. Bahkan mereka tidak segan bertanya atau mencari tahu hadist yang tidak didengarnya dari sahabat lainnya. Meskipun jarak tempuh yang mereka lakukan untuk mendengar hadist begitu jauh.


  • Mencari ilmu pengetahuan Islam ketika itu adalah mencari, mendengarkan dan mendiskusikan hadist dari sumbernya langsung yaitu Nasi Saw


  • Pembelajaran Islam, ketaatan dalam Islam indentik dengan mencari Ilmu Islam itu sendiri. Ini dibuktikan dengan peragaan sahabat yang terus mencari ilmu, belajar dan berguru.Di tangan sahabat inilah Islam bersinar terang ke semua belahan dunia. Karena di tangan mereka adalah ilmu Islam yang akan terus digapai oleh generasi Islam berikutnya.


  • Islam adalah ilmu sebelum bertindak, artinya mereka.."sami'na wa Atho'na..Aku tunduk dan aku patuh. Mereka sangat khsusuk mendengarkan hadist dan ketika mengajarkannya, tanpa memikirkan lebih jauh ketika itu. Namun setelah wafatnya sang Nabi, para sahabat terkenal dengan kepiawaian mereka dalam diskusi, dalam berpidato, dalam fikih, tafsir dan lainnya. Meskipun ketika Nabi masih hidup sebagian besar para sahabat tidak bisa membaca dan menulis....pantaslah jika Allah Swt memuji para sahabat dan ridha kepada mereka


  • "Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha (merasa puas terhadap limpahan rahmat) Allah." (QS. Al-Mujadilah22)

    Kamis, 03 Desember 2009

    lima perkara sebelum datang lima perkara

    Rasulullah Saw pernah bersabda:

    "Manfaatkanlah kesempatan yang lima, sebelum (datang) lima yang lainnya, yaitu: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Masa sehatmu sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang fakirmu. Masa hidupmu sebelum matimu. Dan masa senggangmu sebelum datang kesibukanmu." (HR. Al-Hakim)

    Keterangan:

    Hadits di atas mengandung pengertian, bahwa kita harus dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya lima kesempatan yang ada dan baik sebelum datang lima perkara yang menyakitkan. Lima kesempatan itu adalah:

    1. Masa muda sebelum datang masa tua

    Maksudnya adalah selagi masih muda kita harus banyak berbuat ketaatan karena kondisi kita masih kuat, sebelum datang masa tua kita. Bayangkan apabila kita sudah tua, tentu akan lebih berat untuk berbuat ketaatan karena faktor fisik yang lemah dan kurang mendukung.

    2. Masa sehat sebelum sakit

    Kesehatan memang bukan segalanya tapi tanpa kesehatan semuanya menjadi tidak berarti. Seperti itulah ungkapan yang banyak disebutkan tentang bagaimana menjadi sehat adalah sebuah rezeki dan kenikmatan yang tiada tara sehingga Rasulullah Saw. berpesan agar selagi kita masih diberikan kesehatan maka perbanyaklah amal shaleh yang nantinya itu akan berguna bagi diri kita sendiri, sebelum datang sakit.

    3. Masa kaya sebelum datang fakir

    Kaya disini berarti adalah kelapangan harta dan Rasulullah Saw. berpesan selagi punya kemampuan untuk bersedekah, berinfaq atau berjihad dengan harta maka kita harus banyak memberikan sebagian apa yang kita miliki untuk orang-orang yang membutuhkan, sebelum datangnya musibah yang akan merenggut harta kita. Seandainya kita tidak memanfaatkan hal itu dengan banyak bersedekah, berinfaq atau berjihad dengan harta, maka kita akan menjadi orang yang fakir baik itu di dunia maupun di akhirat.

    4. Masa hidup sebelum mati

    Penyesalan akan datang belakangan dan itu adalah tipikal dari kebanyakan manusia, yaitu menyesal sedangkan itu sudah terlambat. Namun jangan sampai kita menyesal setelah kita hidup di akhirat kelak karena tak akan ada kesempatan dua kali untuk memperbaiki apa yang telah kita lakukan di dunia. Untuk itu Rasulullah Saw. berpesan agar kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya masa hidup kita sebelum datang kematian, karena kesempatan hanya datang sekali, yaitu di masa hidup kita sekarang ini.

    5. Waktu senggang sebelum datang kesibukan

    Hari kiamat itu pasti dan waktunya pun bisa terjadi sewaktu-waktu. Di saat itu tiap-tiap manusia akan disibukkan dengan ketakutannya masing-masing dan untuk itu Rasulullah Saw. berpesan agar kita memanfaatkan waktu senggang kita sekarang ini dengan sebaik-baiknya sebelum datangnya kesibukan saat hari kiamat nanti.

    Semoga kita bisa memelihara lima perkara diatas sebelum datang lima perkara yang lainnya.Amiin.