Sabtu, 06 Desember 2008

Aliran Khawarij

Secara etimologis kata Khawarij berasal dari bahasa arab, yaitu kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak, ini yang mendasari syahrastani untuk menyebut Khawarij terhadap orang yang memberontak iman yang sah. Berdasarkan pengertian etimologi ini pula, Khawarij berarti setiap muslim yang ingin kesatuan umat islam.

Adapun yang dimaksud Khawarij dalam terminologi ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap suatu keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang siffin pada tahun 37 H/648 M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan prihal persengketaan khalifah. Kelompok Khawarij pada mulanya memandang Ali dan pasukannya berada di pihak yang benar karena Ali merupakan kahlifah yang sah yang telah dibai’at mayoritas umat islam, sementara muawiyah berada dipihak yang salah karena memberontak khalifah yang sah. Lagi pula berdasarkan estimasi Khawarij , pihak Ali hampir memperoleh kemenangan pada waktu itu, tetapi karena tipu daya licik ajakan damai Muawiyah, kemenangan yang hampir diraih itu mejadi raib.

Ali sebenarnya sudah mencium kelicikan di balik ajakan damai kelompok muawiyah sehingga ia bermaksud untuik menolak permintaan itu namun, karena desakan sebagian pengiktunya, terutama ahli qurra seperti Al-Asy’ats bin Qais, Mas’ud bin Fudaki At-Tamini, dan Zaid Bin Husein Ath-Tha’I, dengan sangat terpaska Ali memerintahkan Al Asytar (komandan pasukannya) untuk menghentikan peperangan.

Setelah menerima ajakan damai, Ali bermaksud mengirimkan Abdullah bin abbas sebagai delegasi juru damai (hakam) nya, tetapi orang-orang Khawarij menolaknya, mereka beralasan bahwa abdullah bin abbas berasal dari kelompok Ali sendiri. Kemudian mereka mengusulkan agar Ali mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah.keputusan takhim, yakni di turunkan dari jabatannya, sebagai khalifah oleh utusannya, dan mengangkat Muawyah menjadi kehalifah pengganti Ali sangat mengecewakan orang-orang khawarij.Mereka membelot dengan mengatakan,”Mengapa kalian berhukum kepada manusia.Tidak ada hukum selain hukum yang ada di sisi Allah.”Imam Ali menjawab.”Itu adalah ungkapan yang benar,tetapi mareka artikan keliru.”Pada saat itu juga orang-orang khawarij keluar dari pasukan Ali dan langsung menuju Hurura.Itulah sebabnya Khawarij di sebut juga dengan nama Hurura.Kadang-kadang mereka disebut dengan syurah dan Al-mariqah.

Dengan arahan Abdullah Al-kiwa,meraka sampai di Harura.Di Harura,kelompok Khawarij ini melanjutkan perlawanan kepada Muawiyah dan juga kepada Ali.Mereka mengankat seorang pimpinan yang bernama Abdullah bin Shahab Ar-rasyibi.

1. Khawarij dan Doktrin-doktrin pokoknya

Di antara doktrin-doktrin pokok Khawarij adalah sebagai berikut ini.

· Khalifah atau imam harus di pilih secara bebas oleh seluruh umat Islam,

· Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab.Dengan demikian setiap orang muslim berhak menjadi khalifa apabila sudah memenuhi syarat.

· Khalifah di secara permanen selama bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam.Ia harus di jatuhkan bahkan di bunuh kalau melakukan kezaliman.

· Khalifa Ali adalah sah tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim),ia di anggap telah menyaleweng.

· Muawiyah dan Amr bin Al-ash serta Abu Musa Al-asy’ari juga di anggap menyeleweng dan telah menjadi kafir

· Pasukan Perang Jamal yang melawan Ali juga kafir.

· Seseorang yang berdosa besar tidak lagi di sebut muslim,sehingga harus di bunuh.Yang sangat anarkis(kacau) lagi,mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah di anggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus di lenyapkan pula.

· Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka.Bila tidak mau bergabung,ia wajib di peragi karena hidup dalam dar al-harb(negara musuh),sedangkan golongan mereka sendiri di anggap berada dalam dar-Islam(negara Islam).

· Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng,

· Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga,sedangkan orang yang

· jahat harus masuk ke dalam neraka),

· Amar ma’ruf nahi munkar.

· Memalingkan ayat-ayat Al-Quran yang tampak mutasabihat (samar),

· Quran adalah makhluk

· Manusia bebas memutuskan perbuatanya bukan dari Tuhan.

· Bila dianalisis secara mendalam,doktrin yang di kembangkan kaum khawarij dapat di kategorikan dalam tiga kategori:politik,teologi,dan sosial. Dari beberapa poin diatas di kategorikan sebagai doktrin politik sebab membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan,khususnya tentang kepala negara (khalifah).

· Melihat pengertian politik secara praktis –yakni kemahiran bernegara,atau kemahiran berupaya menyelidiki manusia dalam memperoleh kekuasaan,atau kemahiran mengenai latar belakang,motivasi dan hasrat mengapa manusia ingin memperoleh kekuasaan khawarij dapat dikatakan sebagai sebuah partai politik.Politik juga ternyata merupakan doktrin sentral khawarij yang timbul sebagai reaksi terhadap keberadan Muawiyah yang secara teoris tidak pantas memimpin negara,karena ia seorang tulaqa.Kebencian ini bertambah dengan kenyataan bahwa keislaman Muawiyah belum lama.

· Meraka menolak untuk dipimpin orang yang di anggap tidak pantas.Jalan pintas yang di tempuhnya adalah membunuhnya,termasuk orang yang mengusahakannya menjadi khalifa.Dikumandangkanlah sikap bergerilyah untuk membunuh mereka.Dibuat pulalah doktrin teologi tentang dosa besar sebagaimana tertera pada poin h dan k.Akibat doktrinnya yang menentang perintah,Khawarij harus mananggung akibatnya.Mereka selalu di kejar-kejar dan ditumpas oleh pemerintah.Kemudian perkembangannya,sebagai mana dituturkan Harun Nasution,kelompok ini sebagian besar sudah musnah.Sisa-sisanya terdapat di Zanzibar,Afrika Utara,dan Arabian Selatan.

· Doktrin teologi Khawarij yang redikal pada dasarnya merupakan imbas langsung dari doktrin sentralnya,yakni doktrin politik

MACAM – MACAM TAUHID

1. Tauhid Al-Rububiyyah

Rububiyyah berasal dari salah satu nama Allah – Rabb, yang memiliki makna : pemelihara, pengasuh, penolong, penguasa, pendamai dan pelindung.

Secara syar’i bermakna iman kepada Allah sebagai pencipta, pengatur, penguasa, segala urusan yang ada dialam semesta, menghidupkan dan mematikan dan hal-hal yang termasuk perkara takdir dan menetapkan hukum alam.

Tauhid Rububiyyah meliputi iamn kepada :

a. Iman kepada perbuatan Allah

b. Iman kepada qadla dan qadar Allah

c. Iman kepada ke Esaan dzat-Nya


2. Tauhid Al-Asma Wa al-Sifat

Pengertian tauhid Al-Asma wa al-sifat adalah penetapan dan pengakuan yang kokoh atas nama-nama dan sifat-sifat Allah berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah. Sifat-sifat yang ditetapkan oleh Rasulullah bagi Allah.

a. Al-Asma al-husna (nama-nama Allah yang baik)

b. Sifat-sifat Allah

a). Sifat dzatiyah yaitu sifat yang senantiasa melekat pada dzat-Nya tidak terpisah dari Dzat-Nya

b). Sifat fi’liyyah yaitu sifat yang diperbuat Allah jika ia berkehendak.


3. Tauhid Uluhiyyah

Uluhiyyah berasal dari kata al-ilah yang artinya sesuatu yang disembah (sesembahan) dan sesuatu yang ditaati secara mutlak. Kata ilah ini diperuntukan bagi sebutan sesembahan yang benar yang (haqq). Tauhid uluhiyyah mengandung makna pokok yakni al-ibadah (penyembahan) dan thaat (ketaatan) hanya kepada Allah.

RUKUN IMAN SEBAGAI REALISASI

KALIMAT SYAHADAT

A. Konsekwensi Syahadat

Kalimat syahadat sebagi credo pertama yang dinyatakan oleh orang muslim dan muwahhid, memiliki konsekwensi logis yang haris ditegakkan.

Pertama, orang tersebut harus mewujudkan segala persyaratan syahadat sebagaiman dikemukakan syarat-syarat kalimat tauhid.

Kedua, menegakkan konsekwensi kalimat “la illaha illallah”.

Ketiga, menegakkan konsekwensi “muhammadarrasulullah”.

Keempat, menghindari segala yang membatalkan syahadat.

B. Rukun Iman

Sebagai awal realisasi kalimah syahadat, yang merupakan inti dari keimanan dalam Islam yang disebut rukun Iman.

1). Iman kepada Allah

Beriman kepada Allah berarti meyakini akan wujud Allah serta mengesakannya, baik zat, asma, sifat maupun perbuatan (Q.S. Al-Hadid, 57:3)

2). Iman kepada Malaikat

Iman kepada malaikat adalah salah satu rukun iman yang sedikitpun tidak boleh bercampur dengan keraguan.(Q.S. An-Anbiya’ 21:26-27)

3). Iman kepada Nabi dan Rasul Allah

Seorang muslim wajib mengimani bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah penutup para Nabi. Dengan demikian setiap muslim hanya wajib mengikuti dan melaksanakan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. (Q.S. Al-Azhab 33:21).

4). Iman kepada kitab-kitab Allah

Yang dimaksud kitab-kitab Allah adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya (Q.S. Al-Baqarah 2:213).

5). Iman kepada hari Kiamat

Yang dimaksud hari akhir adalah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan di dunia berakhir, termasuk semua proses dan semua peristiwa pada hari itu. Seperti : Hancurnya alam semesta beserta isinya, ba’ats, mahsyar, hisab, wazn dan jaza’

6). Iman kepada Qadla dan Qadar

Secara etimologis qadla berarti ketetapan, keputusan / kepastian. Qadla Allah berarti ketetapan hukum Allah terhadap segala sesuatu. Qadar adalah ketentuan dan kuran Allah terhadap segala sesuatu.

Iman kepada qadha dan qadar mencakup 4 tingkatan yaitu :

a. Al-ilm yaitu keyakinan bahwa Allah maha mengetahui segala sesuatu (Q.S. Al-Hajj 22:70, Q.S. Al-Hasr 59:22, Q.S. Al-An’am 16:59)

b. Al-Kitabah yaitu meyakini bahwa Allah menulus segala sesuatu diluar mahfudz dan tulisan itu tetap ada sampai hari kiamat.

c. Al-Masyi’ah, yaitu meyakini bahwa Allah mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi (Q.S. Al-Insan 73:30)

d. Al-Khalq yaitu meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu (Q.S. Az-Zumar 39:62, Q.S. Al-Furqan 25:2, Q.S. As-Shafa’at 37:96)

PERKEMBANGAN ISLAM DI ANDALUSIA

PERKEMBANGAN ISLAM DI ANDALUSIA

Dalam pertumbuhan Islam di Andalusia, bangsa Arab diperkenalkan dengan persoalan yang menyangkut pertanian, karena wilayah Spanyol sangat subur bagi pertumbuhan lapangan pertanian. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemerintahan agar orang-orang di Spanyol bergerak dalam lapangan pertanian. Di samping itu pertukangan juga berkembang pesat. Pemgetahuan tentang bangunan dikembangkan oleh khalifah-khalifah di Spanyol.

Gedung-gedung yang tinggi dan indah berdiri megah dengan arsiktektur yang indah-indah. Demikian juga masjid dan perpustakaan diutamakan dalam perkembangan Islam di Andalusia. Angkatan bersenjata di waktu itu termasuk yang terbesar dan terkuat di belahan Eropa.

Kota Cordova menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan Islam. Di ibukota Andalusia itu berkembang ilmu pengetahuan Islam dan umum. Perguruan tinggi (Al-Jami’ah) berdiri dengan mahasiswa dari berbagai bangsa. Sarjan-sarjan Islam seperti Ibnu Rusydi, Ibnu Hasan, Muhyiddin Ibnul Araby dengan pengetahuannya uang mendalam tentang Agama Islam menyemarakkan perkembangan ilmu pengetahuan di Andalusia.

Ibnu Tufail mengembangkan imu kedokteran, Ibrahim Az Zarqaly ahli astronomi, Ibnu Khaldun ahli sejarah dan sosioogi, Ibnu Baitar Al Malaqy ahli dalam masalah tanaman dan pertanian.

KEKHALIFAHAN DI ANDALUSIA

Sejak pemerintahan Bani Umayah, kekuasaan wilayah Islam telah mencapai negeri Spanyol atau Andalusia. Yaitu di masa khalifah Walid bin Abdul Malik. Adapun wilayah Andalusia (Spanyol) di zaman kekuasaannya para Amir Bani Umayah meliputi Giblartar, Granada, Cartagena, Venesia, Avragon, Barcelona, Sarragosa, Caslilia, Lion dan Cordova.

Samapai zaman pemerintahan Abbasiyah kekhalifahan Bani Umayah tetap menguasai Andalusia, walaupun di negara-negara Arab kekuasaan Bani Umayah telah punah. Khalifah yang berkuasa di Andalusia dimasa itu adalah Absurrahman Ad Dakhil. Ia menjadi khalifah di Spanyol selama 31 tahun ia wafat dalam usia 67 tahun )172 H – 788 M)

Abdurrahman Ad Dakhil adalah seorang pelarian politik dari Afrika. Nama sebenarnya adalah Abdurrahman bin Mu’awiyah. Pertama ia melarikan diri ke Afrika Utara kemudian ia menyeberang menuju tanah Andalusia (Spanyol).

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI PADA MASA KHALIFAH

Ilmu pengetahuan adalah ilmu yang diperoleh melalui penelitian ilmiah. Berbeda dengan ilmu agama yang diperoleh melalui wahyu Allah. Ilmu pengetahua bersifat objektif dan rasional. Semua orang yang berakal dapat menerima hasil dan penelitian ilmu pengetahuan.

Islam mengajarkan kepada penganutnya bahwa tidak hanya cukup mempelajari urusan dunia atau urusan akhirat saja. Akan tetapi, harus ada keseimbangan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Oleh karena itu, ulama-ulama tidak hanya menyibukkan diri dalam urusan akhirat saja. Banyak ulama serta cendikiawan muslim yang berjasa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang hingga saat ini dipergunakan.

Pada zaman keemasan Islam cendikiawan muslim menguasai bebagai macam ilmu pengetahuan. Banyak cendikiawan muslim yang menguasai ilmu filsafat, kedokteran, matematika, astronomi dan kesastraan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.

1. Ilmu Fisika dan Matematika

Beberapa cendikiawan muslim yang menguasai ilmu fisika dan matematika adalah sebagai berikut :

a. Al-Farabi, nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad al-Farabi dikenal mengembangkan disiplin ilmu fisika. Ia juga dikenal sebagai pakar musik. Teori musiknya terdapat dalam kitab al-Musiq al-Kabir (Buku Besar tentang Musik).

b. Umar bin Al-Farkhan, berhasil membangun kota Baghdad dengan perencanaan berdasaran hitungan fisika dan matematika. Menyalin buku berbahasa Persia “Quad-ripartium” (ptolemy) ke dalam bahasa Arab.

c. Al-Makmun, seorang cendikiawan yang kemudian mengaku jabatan khalifah. Ia berhasil membangun observatorium di tanah lapang Sinyar, Ia mengukur derajat cahaya rembang matahari dan menemukan teorinya sendiri.

d. Al-Battani, dikenal sebagai tokoh yang pertama menemukan serta mengembangkan hitungan sinus, tangent dan contangent.

Komentar Prof. Dr. Carra de Vaux salah seorang ilmuan berkebangsaan Belanda terhadap penemuan al-Battani, adalah “….. Al-Battani telah mengantar kita ke abad ilmu pengetahuan modern sekarang …..”

e. Al-Kindi, lebih dikenal dengan Al-Kindus seorang ahli fisika penemu optik.

f. Ibnu Haitam, seorang ahli matematika dikenal dengan sebutan Avenetan, beliau orang pertama yang menemukan rumus cahaya.

g. Al-Khawarizmi dikenal sebagai Bapak Aljabar/Aritmatika. Ia adalah orang pertama yang menemukan ilmu hitung.

2. Ilmu Kedokteran

Dalam ilmu kedokteran, ilmuan Islam telah menyumbangkan peran sangat penting dan menentukan sejarah ilmu kedokteran modern. Beberapa tokoh terkemuka dan karyanya berikut ini telah menjadi saksi sejarah bagi ilmuan pada abad sekarang.

a. Jabir ibn Hayyan, seorang dokter diawal kemajuan Islam. Ia dikenal sebagai Bapak Imu Kimia. Ia telah menulis puluhan buku penting mengenai ilmu kimia. Karya-karyanya menjadi rujukan penting bagi para kimiawan lainnya dan telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa asing.

b. Abu Bakar bin Zakaria Ar Razi yang lebih dikenal dengan sebutan Ar Razi. Dikalangan Eropa lebih akrab dengan sebutan Rhazes Zakaria Ar-Razi adalah seorang ahli ilmu kedokteran pertama yang menulis masalah pengobatan secara medis atau ilmiah dan penemu air raksa. Karyanya adalah Al-Hawi hingga saat ini dijadikan rujukan ilmu kedokteran di dunia.

c. Ibnu Sina mempunyai nama lengkap Husein bin Abdillah, ialah seorang dokter dan filsuf ternama. Di Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan sebutan Avicenna. Di dunia Islam beliau dikenal sebagai ahli filsafat ketuhanan. Ibnu Sina dilahirkan bukan hanya untuk orang Islam tetapi kaum Yahudi dan zionis pun mengakuinya. Dalam dunia Islam Ibnu Sina dianggap sebagai zenith (puncak ilmu kedokteran). Karyanya yang berjudul al-Qunun Fi at-Tibb dan Asy-Syifa menjadi rujukan dunia ilmu kedokteran sampai saat ini. Oleh karena itu, beliau dikenal sebagai Bapak Kedokteran.

3. Ilmu Astronomi

Beberapa tokoh terkemuka dibidang astronomi, antara lain:

a. Nasiruddin at-Tusi, pendiri observatorium di Maragah, Asia Kecil. Dengan observatoriumnya, ia berhasil merekam perjalanan bintang dalam tabel astronomi Ilkhaniah. Sebuah bola berputar yang tersusun atas berbagai cincin membantu dalam penyelidikannya. Observatorium Maragah dilengkapi alat yang paling baik pada saat itu, antara lain alat pengamatan gerhana dan kedudukan bintang di cakrawala.

b. Tsabit Ibn Qurra, ahli perbintangan yang memiliki observatorium penyelidik jarak matahari ke bumi. Ia mempelajari perjalanan matahari selama satu tahun.

c. Al-Battani, oleh orang-orang Eropa lebih dikenal dengan nama Albategnius. Hasil pengamatan dalam observatoriumnya disalin kedalam bahasa latin, kemudian disusun kembali kedalam bahasa Arab.

d. Abul Wafa, mengembangkan teori al-Battani dan berhasil menemukan teori tentang garis jalan bulan yang baru. Di Eropa jalan tersebut dinamakan variation. Untuk bisa menguasai teori yang ada dibuku Abul Wafa, para ilmuan Barat memerlukan waktu yang beratus tahun lamanya.

e. Al-Farghani, di Eropa dikenal dengan nama Al-Faraganus. Dia ialah pelopor astronomi modern.